|
|
|
|
Strategi Pembangunan Pemukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)
Strategi yang dapat dipergunakan sebagai acuan bagi pembangunan permukiman tetap mengacu dan terintegrasi dengan arahan pembangunan (Tata Ruang dan Rencana Pembangunan)
Tujuan
-
Mewujudkan dan meningkatkan kualitas kawasan permukiman yang sehat dan layak huni yang selaras dengan kearifan lokalnya.
-
Mengendalikan pembangunan dan pelestarian kawasan
-
Meningkatkan peran masyarakat dalam pengembangan permukiman
|
Isu – Isu Permukiman dan Infrastruktur Permukiman
ISU LINGKUNGAN
1.Kabupaten Bangli sebagian besar berada pada kawasan dataran tinggi dan pegunungan yang memiliki ekosistim yang harus dilestarikan.
2.Sebagian besar Kabupaten Bangli merupakan kawasan resapan air tetapi ketersediaan air baku sangat rendah karena daerah lepasan air justru berada di wilayah lain (kabupaten lain).
3.Tingginya proporsi luas lahan kritis baik di kawasan hutan maupun non hutan dan terjadi potensial lahan kritis yang sangat besar (70,84%)
4.Terbatasnya lahan pengembangan perluasan permukiman pada pusat – pusat pelayanan wilayah (permukiman perkotaan).
Kawasan Bangli Utara memiliki potensi pariwisata sebagai Kawasan Daya Tarik Wisata Khusus (KDTWK) Kintamani
ISU SOSIAL BUDAYA
1.Beberapa kawasan di Kabupaten Bangli memiliki latar belakang budaya yang khas seperti Batur, Trunyan, Penglipuran, Bayunggede, Pengotan, dll)
2.Memiliki sebaran kawasan suci yang harus dijaga kesuciannya.
3.Memiliki Pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan
ISU INFRASTRUKTUR
1.Beberapa pusat – pusat permukiman, infrastruktur penunjang aksesibilitas masih rendah, terutama di Kecamatan Kintamani.
2.Pelayanan transportasi (angkutan umum) antar wilayah dan kawasan yang tidak memadai.
3.Terdapatnya kawasan rawan banjir terutama di pusat kawasan perkotaan (Kecamatan Bangli).
4.Infrastruktur lingkungan dikawasan permukiman yang perlu penanganan (jalan lingkungan, drainase, persampahan, air limbah).
5.Terdapat titik – titik macet pada jalan – jalan utama (seperti Penelokan – Singaraja) sehingga perlu dikembangkan alternatif penanganannya.
6.Pelayanan air bersih/air minum pada beberapa kawasan permukiman yang belum terlayani, disebabkan keadaan topografi yang tinggi (Kawasan Kintamani)
7.Terdapat TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Sampah Regional Bangli yang berpotensi sebagai tempat pengolahan sampah regional antar wilayah.
8.Adanya timbulan sampah yang dihasilkan dalam skala Rumah Tangga